Merawat Pena di Bumi Gora Sinergi, Transparansi, dan Kesejahteraan Jurnalis


Oleh : Dr. Alfa Dera, S.H., M.H., M.M.  

Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Lombok Tengah


Setiap 3 Mei, dunia berhenti sejenak. Bukan untuk pesta, tapi untuk bertanya: semerdeka apa pers kita hari ini? Tema Hari Kebebasan Pers Sedunia 2026 menjawab telak: "Shaping a Future at Peace: Freedom of Expression as a Driver for All Other Human Rights". Maknanya jelas. Tanpa pers yang sehat, keadilan dan perdamaian hanya jadi slogan.


Lombok di Etalase Dunia  

Hari ini Lombok bukan lagi pinggiran. Mandalika mengubahnya jadi etalase Indonesia. Sirkuit bergemuruh, investor datang, kamera dunia menyorot Bumi Gora. Di tengah laju pembangunan ini, jurnalis bukan sekadar pencatat. Mereka mata, telinga, dan nurani publik.


Sebagai insan Kejaksaan, saya tegaskan: wartawan bukan lawan. Mereka mitra strategis. Penegakan hukum modern tidak boleh kaku dan tertutup. Ia harus cerdas, humanis, dan terbuka. Di situlah sinergi dengan pers jadi kebutuhan, bukan pilihan.


Transparansi Adalah Kewajiban  

Kepercayaan publik lahir dari keterbukaan. Edukasi hukum, pemulihan aset negara, pemberantasan korupsi, pengawalan investasi — semua tak berarti jika rakyat tak tahu. Di sinilah peran pers.


Di tengah banjir hoaks dan informasi setengah matang, pers profesional adalah clearing house. Bahasa hukum yang rumit diterjemahkan jadi obrolan warung kopi. Yang jauh jadi dekat. Publikasi bukan pencitraan. Ini bentuk pertanggungjawaban. Saat media memberitakan kinerja negara secara faktual, rakyat yakin: negara hadir.

Kritik Itu Vitamin  

Sinergi bukan berarti pers jadi papan pengumuman. Justru sebaliknya. Esensi kemerdekaan pers adalah berani mengkritik. Kritik yang membangun adalah vitamin bagi birokrasi dan penegak hukum.


Tak ada kebijakan yang sempurna. Liputan investigatif yang etis mampu mendeteksi retak sebelum roboh. Kritik yang proporsional adalah alarm. Agar pembangunan tak melukai keadilan. Agar investasi tak dibajak mafia. Agar kelompok rentan tetap dilindungi. Pemerintah dan aparat tak boleh alergi. Selama berbasis data dan kode etik, kritik adalah bentuk cinta pers pada daerahnya.


Jangan Lupa Kesejahteraan  

Kita menuntut jurnalis objektif dan beretika. Tapi pernahkah kita tanya: bisa tegakkah idealisme kalau dapur belum ngebul? 


Banyak wartawan menembus hujan, begadang, bahkan mempertaruhkan nyawa demi kebenaran. Ironisnya, payung kesejahteraan mereka masih bocor. Jika pers adalah penggerak HAM, maka hak jurnalis untuk hidup bermartabat adalah prasyarat mutlak.


Duduk Satu Meja, Langkah Nyata  

Hari Kebebasan Pers 2026 jangan jadi seremoni. Perusahaan media, Pemda, asosiasi jurnalis, dan penegak hukum harus duduk bersama. Bukan cuma soal liputan. Tapi juga literasi hukum, peningkatan kapasitas, bantuan hukum, jaminan sosial, hingga skema upah layak bagi jurnalis lapangan.

Rawat Ekosistemnya  

Jadi jurnalis hari ini mulia sekaligus berisiko. Mari rawat ekosistem pers Lombok agar tetap merdeka, sehat, dan sejahtera. Pastikan pena tetap tajam menjaga akal sehat, berani mengkritik, dan setia pada transparansi. Semoga keringat para pahlawan informasi dibalas dengan kesejahteraan yang pantas. 

Selamat Hari Kebebasan Pers Sedunia. 

Editor. Muhammad ROSIDI