PRAYA, Lombok Tengah – Krisis air bersih jadi alarm serius di Lombok Tengah. Menipisnya debit mata air dan belum optimalnya Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Mandalika mendorong DPRD Loteng membahas penyertaan modal untuk Perumda Tirtardia Rinjani.
Ketua Pansus Penyertaan Modal DPRD Loteng, Murdani, mengatakan suntikan modal ini mendesak untuk membangun infrastruktur daerah tangkapan air baru. “Di tengah menurunnya sumber mata air, harus ada daerah tangkapan baru yang dikelola. Itu butuh penyertaan modal untuk infrastrukturnya,” ujarnya, Rabu (10/6).
Selain itu, SPAM Mandalika yang merupakan program pusat dan telah diserahkan ke daerah juga belum berjalan maksimal. Masih banyak infrastruktur yang harus dibenahi agar layanan air bersih ke masyarakat optimal. Murdani menyebut Pansus kini tengah membahas keran Perda sebagai payung hukum penyertaan modal tersebut.
Meski telah disetujui DPRD, pencairan dana tetap bergantung pada empat syarat: kondisi fiskal daerah, kemampuan keuangan daerah, kelayakan penerima modal, dan skema pencairan bertahap.
“Penyertaan modal ini tidak sekaligus dalam 5 tahun. Misalnya Rp10 miliar dibagi 4 perusahaan, ya sekitar Rp2 miliar. Skemanya masih dibahas,” jelas Murdani.
RAB Capai Rp40 Miliar
Berdasarkan RAB yang diserahkan Perumda, kebutuhan anggaran mencapai Rp40 miliar. Dana tersebut sebagian besar untuk pekerjaan fisik: perbaikan jaringan perpipaan, pembangunan daerah tangkapan baru, dan optimalisasi SPAM Mandalika. Sementara proyek Karang Sidemen–Danau Biru tetap diupayakan lewat APBN.
Murdani menyoroti lemahnya tutupan hutan sebagai akar masalah. Air hujan langsung mengalir ke hilir tanpa sempat terserap tanah. Ia mendorong strategi bendungan-bendungan kecil di hulu untuk menampung air saat musim hujan.
“Debit air kita cukup tinggi di wilayah utama, tapi tidak tentu musimnya. Air ini mengalir ke bawah dan banyak diserap sektor lain. Makanya perlu daerah tangkapan baru agar tidak terbuang sia-sia,” tegasnya. Pansus masih akan melakukan pendalaman RAB dan presentasi program. Pembahasan sempat terhenti karena agenda reses, dengan target penyelesaian 6 bulan ke depan.||
Editor: Muhammad ROSIDI

