Basirun Dilantik Jadi Direktur RSUD Praya, FP4: Naik Kelas Harus Diikuti Perbaikan Pelayanan FP4 menyampaikan selamat kepada jajaran manajemen baru sekaligus menegaskan akan mengawal kebijakan dan mutu pelayanan RSUD Praya
7.10.26
PRAYA LOMBOK TENGAH, Jourbalntbmews.
Forum Peduli Pembangunan dan Pelayanan Publik (FP4) menyambut pelantikan dr. Basirun sebagai Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Praya pada Selasa malam, 6 Oktober 2026. Pergantian kepemimpinan tersebut diharapkan menjadi momentum pembenahan tata kelola dan peningkatan pelayanan, seiring kenaikan status rumah sakit dari kelas C menjadi kelas B.
Pelantikan berlangsung di Aula RSUD Praya, Kabupaten Lombok Tengah. Berdasarkan undangan resmi Bupati Lombok Tengah tertanggal 6 Oktober 2026, acara pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan pejabat pimpinan tinggi pratama serta pejabat administrator dijadwalkan pukul 20.00 WITA.
Basirun sebelumnya menjabat Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD Praya. Pemberitaan mengenai pelantikan tersebut juga menyebut adanya penataan jajaran wakil direktur dan kepala bidang di lingkungan rumah sakit.
Sekretaris FP4, Lalu Deny Rusmin J., SH, menyampaikan selamat kepada Basirun dan seluruh pejabat yang mendapatkan amanah baru. Namun, ia mengingatkan bahwa pergantian kepemimpinan harus menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan masyarakat.
“Kami menyampaikan selamat kepada dr. Basirun dan seluruh jajaran yang baru dilantik. Amanah ini harus dijawab dengan kerja nyata, integritas, dan pelayanan yang semakin manusiawi. Masyarakat tidak hanya menunggu hadirnya pemimpin baru, tetapi juga menunggu perbaikan yang nyata,” ujar Deny.
Menurutnya, rotasi, mutasi, maupun promosi jabatan perlu ditempatkan sebagai upaya memperkuat organisasi, bukan sekadar mengisi struktur. Setiap pejabat diharapkan memiliki tanggung jawab yang jelas dan sasaran kerja yang dapat dievaluasi.
“Pergantian orang harus membawa perbaikan, bukan hanya pergantian nama pada struktur organisasi. Ukuran keberhasilannya adalah bagaimana pasien dilayani, bagaimana keluarga pasien mendapatkan kepastian informasi, dan bagaimana persoalan diselesaikan tanpa saling melempar tanggung jawab,” katanya.
Tantangan rumah sakit kelas B
Pelantikan direktur baru berlangsung ketika RSUD Praya telah berstatus rumah sakit kelas B. RRI pada 20 Januari 2026 memberitakan kenaikan kelas dari tipe C menjadi tipe B. Status kelas B juga tercantum dalam profil RSUD Praya pada sistem RS Online Kementerian Kesehatan.
Deny menilai peningkatan status tersebut merupakan capaian yang patut diapresiasi, tetapi sekaligus membawa tanggung jawab lebih besar bagi direksi dan seluruh jajaran rumah sakit.
“Naik kelas bukan garis akhir. Justru di situlah tuntutan terhadap mutu pelayanan semakin besar. Jangan sampai rumah sakit naik kelas secara administratif, tetapi masyarakat tidak merasakan peningkatan dalam pelayanan sehari-hari,” tegasnya.
Ia berharap direksi baru memastikan perubahan status berjalan seiring dengan kesiapan tenaga kesehatan, sarana pelayanan, koordinasi antarunit, dan kepastian penanganan pasien.
Harapan peningkatan pelayanan juga pernah disampaikan BPJS Kesehatan. Suara NTB pada 6 Maret 2026 memberitakan bahwa BPJS Kesehatan meminta pelayanan yang lebih baik setelah RSUD Praya naik kelas. Rumah sakit tersebut juga disebut menjadi rujukan bagi rumah sakit tipe D dan C.
“Ketika tanggung jawab pelayanan semakin besar, manajemen harus memastikan sistemnya semakin siap. Pasien membutuhkan penanganan yang tepat, informasi yang jelas, dan kepastian pelayanan. Kenaikan kelas harus terasa manfaatnya bagi masyarakat,” ujar Deny.
Perkuat sistem dan keterbukaan
FP4 berharap manajemen baru memberi perhatian pada kejelasan alur pelayanan, waktu tunggu, komunikasi petugas dengan pasien, serta tindak lanjut pengaduan. Deny menekankan bahwa pembenahan harus menyentuh sistem kerja, bukan hanya menuntut petugas di garis depan.
“Pelayanan yang baik membutuhkan tenaga kesehatan dan petugas yang didukung oleh manajemen. Harus ada koordinasi yang sehat, pembagian tugas yang jelas, dan sarana yang memadai. Jangan sampai kelemahan sistem justru dibebankan seluruhnya kepada petugas yang berhadapan langsung dengan pasien,” katanya.
Ia juga meminta jajaran manajemen membuka ruang komunikasi yang sehat dengan masyarakat.
Pengaduan dan kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab, menurutnya, perlu diperlakukan sebagai bahan evaluasi.
“Keterbukaan bukan tanda kelemahan. Justru manajemen yang mau mendengar, menjelaskan, dan memperbaiki persoalan akan lebih mudah membangun kepercayaan publik. Keluhan masyarakat jangan berhenti pada penerimaan laporan, tetapi harus memiliki tindak lanjut yang jelas,” ujarnya.
Jaga kesinambungan, lakukan evaluasi
Sebelum pelantikan Basirun, dr. Mamang masih dipercaya menjalankan tugas sebagai penjabat Direktur RSUD Praya setelah menduduki jabatan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah, hingga adanya pejabat pengganti.
Deny menyampaikan penghargaan kepada Mamang dan jajaran sebelumnya atas pengabdian mereka. Ia berharap kepemimpinan baru melanjutkan program yang bermanfaat sekaligus melakukan evaluasi terhadap hal-hal yang belum
“Yang sudah baik harus dilanjutkan, sedangkan yang belum optimal harus diperbaiki secara jujur dan terukur. Menghargai pengabdian kepemimpinan sebelumnya tidak berarti menutup ruang evaluasi. Begitu pula pergantian pimpinan tidak berarti semua pekerjaan harus dimulai dari nol,” katanya.
Menurut Deny, kesinambungan kebijakan dan keberanian melakukan pembenahan perlu berjalan bersama agar pergantian kepemimpinan tidak mengganggu pelayanan kepada masyarakat.
FP4 kawal kebijakan pelayanan
FP4 menegaskan akan mencermati setiap kebijakan dan praktik pelayanan RSUD Praya, khususnya yang berdampak langsung terhadap akses masyarakat, mutu pelayanan, keterbukaan informasi, dan penanganan pengaduan.
“Kami akan memberikan apresiasi terhadap kemajuan yang nyata. Namun, kami juga akan menyampaikan kritik apabila terdapat kebijakan atau praktik pelayanan yang perlu diperbaiki. Pengawasan FP4 akan dilakukan secara objektif, berbasis fakta, dan untuk kepentingan publik,” tegas Deny.
Ia menambahkan, sikap kritis tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap keberhasilan rumah sakit dalam menjalankan fungsi pelayanan.
“Kami ingin direksi baru berhasil, karena keberhasilan rumah sakit akan dirasakan masyarakat. Karena itu, dukungan dan pengawasan harus berjalan beriringan. Kami tidak akan menilai dari janji semata, tetapi dari kebijakan, tindak lanjut, dan hasil kerja,” ujarnya.
Deny berharap kepemimpinan Basirun menjadi momentum penguatan kepercayaan masyarakat terhadap RSUD Praya.
“Selamat bekerja kepada dr. Basirun dan seluruh jajaran. Harapan kami, perubahan kepemimpinan dan kenaikan kelas rumah sakit benar-benar menghadirkan pelayanan yang semakin berkualitas, adil, dan manusiawi. Rumah sakit boleh naik kelas, tetapi yang terpenting masyarakat ikut merasakan manfaatnya,” tutupnya.
Tags

