Harmoni Budaya dan Inovasi Tiongkok Menginspirasi Delegasi PKN I Angkatan 69 dalam Susun Rekomendasi Transisi Energi Indonesia


Beijing, Joirnalntbnews.
28 Oktober 2026 – Delegasi Pejabat Pimpinan Tinggi Pemerintah Republik Indonesia yang tergabung dalam Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat I Angkatan 69 melakukan studi benchmarking ke Republik Rakyat Tiongkok untuk memperdalam pemahaman mengenai tata kelola energi bersih dan merumuskan rekomendasi percepatan transisi energi nasional. Delegasi dipimpin oleh Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI, Muhammad Taufiq.

Selain mempelajari aspek teknis dan kebijakan energi, delegasi juga melakukan kunjungan budaya ke Temple of Heaven serta kunjungan inovasi ke Beijing Science City. Kedua lokasi tersebut memberikan perspektif komprehensif mengenai bagaimana Tiongkok memadukan nilai-nilai budaya dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mendukung pembangunan nasional.

Di Temple of Heaven, delegasi mempelajari filosofi tradisional Tiongkok yang menekankan keseimbangan antara manusia, bumi, dan langit. Nilai-nilai tersebut memberi gambaran bahwa komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan tidak lahir secara instan, melainkan berakar pada penghormatan terhadap alam yang diwariskan lintas generasi.
Pemahaman tersebut menemukan relevansinya saat delegasi mengunjungi Beijing Science City, salah satu pusat pengembangan riset dan inovasi teknologi Tiongkok yang berfokus pada energi terbarukan, kecerdasan buatan, dan berbagai teknologi masa depan. Kunjungan ini memperlihatkan bahwa identitas budaya dapat menjadi fondasi yang memperkuat inovasi dan daya saing bangsa, atau yang dikenal sebagai cultural-driven development.


Nilai harmoni antara budaya, alam dan teknologi tersebut sejalan dengan hasil pembelajaran delegasi dalam rangkaian agenda resmi bersama China National Academy of Governance (CNAG) dan National Energy Administration (NEA), serta kunjungan lapangan ke Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Longqingxia. Seluruh agenda difokuskan pada pendalaman tata kelola sistem ketenagalistrikan guna mendukung implementasi dan percepatan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik dan energi terbarukan di Indonesia.

“Kunjungan ke Temple of Heaven dan Beijing Science City membuka wawasan bahwa negara maju tidak harus mengorbankan akar budayanya. Tiongkok menunjukkan bahwa filosofi harmoni yang diwariskan leluhur dapat berjalan beriringan dengan ambisi pengembangan sains dan teknologi masa depan. Pembelajaran ini sangat relevan dengan kebutuhan Indonesia untuk membangun kepemimpinan adaptif dalam menghadapi tantangan transisi energi,” ujar Muhammad Taufiq.

Sementara itu, Koordinator Benchmarking PKN I Angkatan 69, Adi Nugraha, bersama Koordinator Policy Brief, Rakhmat Damdami, menegaskan bahwa berbagai praktik baik yang diperoleh selama kunjungan akan menjadi bagian penting dalam penyusunan rekomendasi kebijakan bagi percepatan transisi energi Indonesia.

“Pembelajaran penting dari Tiongkok bukan semata-mata pada kemajuan teknologi energi terbarukan, tetapi pada bagaimana pemerintah mampu mengorkestrasi kebijakan, kelembagaan, investasi, dan inovasi teknologi secara terintegrasi. Dalam konteks Indonesia, tantangan transisi energi tidak hanya terletak pada pembangunan pembangkit energi bersih, tetapi juga pada kesiapan jaringan transmisi, sistem penyimpanan energi, kepastian investasi, serta sinergi lintas sektor yang selama ini masih perlu diperkuat,” ujar Rakhmat Damdami, Koordinator Policy Brief PKN I Angkatan 69.

“Melalui Policy Brief yang sedang kami susun, berbagai praktik baik tersebut akan diterjemahkan menjadi rekomendasi kebijakan yang adaptif, realistis, dan implementatif, dengan mempertimbangkan karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan. Kuncinya adalah kepemimpinan adaptif dan kolaboratif yang mampu menyelaraskan kepentingan pemerintah pusat, daerah, BUMN, dunia usaha, dan masyarakat, sehingga transisi energi tidak hanya mempercepat pemanfaatan energi bersih, tetapi juga memperkuat ketahanan energi nasional dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.”

Rekomendasi yang tengah dirumuskan mencakup penguatan jaringan transmisi tenaga listrik, pengembangan sistem penyimpanan energi berbasis baterai (Battery Energy Storage System atau BESS), peningkatan kepastian investasi sektor energi bersih, serta optimalisasi penyerapan tenaga kerja lokal. Seluruh rekomendasi tersebut akan disesuaikan dengan karakteristik geografis dan kebutuhan pembangunan Indonesia sebagai negara kepulauan.

Melalui pembelajaran ini, Delegasi PKN I Angkatan 69 berharap dapat menghadirkan rekomendasi kebijakan yang tidak hanya mempercepat transisi energi nasional, tetapi juga mampu mengintegrasikan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal, tata kelola yang adaptif, dan inovasi teknologi untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Dari kegiatan Benchmarking ini terdapat tiga kompetensi kepemimpinan strategis yang penting:
- *Berpikir Sistemik*
Melihat transisi energi sebagai persoalan yang saling berkaitan antara teknologi, infrastruktur, investasi, kelembagaan, dan masyarakat.
- *Kepemimpinan Kolaboratif*
Menekankan kemampuan mengorkestrasi berbagai pemangku kepentingan dan mengatasi fragmentasi koordinasi.
- *Kepemimpinan Adaptif dan Berorientasi Kebijakan*
Menerjemahkan pembelajaran internasional menjadi rekomendasi yang sesuai dengan kondisi Indonesia dan dapat dilaksanakan.

*“Keberhasilan transisi energi bukan semata-mata ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh kemampuan kepemimpinan nasional dalam mengorkestrasi kebijakan, kelembagaan, investasi, dan inovasi secara terintegrasi.”* 

Tags